Suatu waktu, dalam sebuah rapat bersama rekan-rekan LSM di kantor BKSDA Sumatera Utara terjadi diskusi menarik tentang upaya-upaya pendampingan masyarakat. Ruang lingkup diskusi kami pada saat itu adalah pembentukan desa-desa konservasi yang cukup marak belakangan ini di Sumatera Utara.
Salah satu peserta, entah seorang fasilitator lapangan atau manajer program saya lupa, mengemukakan sebuah pendapat. Lagi-lagi saya tidak begitu ingat apa yang disampaikannya secara keseluruhan. Namun, ada satu hal yang sangat menggelitik yang disampaikannya waktu itu, ”Tujuan kita mendampingi masyarakat adalah untuk menjadikan mereka (masyarakat) ekspert !”.
Well, Ok…dari satu sudut yang ‘lega’ mungkin kita semua bisa mengerti apa maksud pernyataan ini. Pendampingan di masyarakat bermaksud menjadikan masyarakat ahli untuk menemukan permasalahan komunal mereka yang sering tersembunyi di balik batasan-batasan kapasitas SDM masyarakat desa. Pendampingan juga diharapkan membawa masyarakat desa menjadi ahli dan bijak dalam memandang sumberdaya.
Pendampingan juga selalu diarahkan pada keahlian masyarakat dalam merancang program-program pemecahan masalah yang berkaitan hidup dan penghidupannya. Dan ini, mencakup banyak hal : bagaimana menyiasati pemanfaatan sumberdaya seefektif mungkin, bagaimana memanfaatkannya secara lestari, dan bagaimana cara mempertahankan harga komoditi di pasar. Lalu pada akhirnya bagaimana mereka bisa mengevaluasi ini semua untuk perbaikan di masa depan.
Mungkin itu maksud dari pernyataan rekan tersebut dan dalam proses mencapainya tentu kita (para pendamping) diharapkan sudah mengetahui terlebih dahulu hakikat program-program yang kita jalankan di lapangan. Dengan ini, harapannya pendamping akan dapat fokus pada tujuan dan tidak asyik sendiri di lapangan selain daripada membuat masyarakat menjadi ekspert.
Saya cukup setuju, tetapi entah karena naif atau dangkal, saya memilih menolak pernyataan ini. Jika harus tetap menggunakan kata-kata yang serupa, saya akan lebih baik berkata : “Kita mendampingi masyarakat adalah untuk bekerja bersama para ekspert (masyarakat) dalam mencapai tujuan program”.
Menurut saya, menjadikan seorang sebagai ekspert menuntut kualifikasi ekspert juga bagi
fasilitatornya. Dan ini sangat berlebihan untuk ukuran seorang yang mengaku fasilitator. Pernyataan
akan menjadikan seseorang menjadi ekspert juga terlalu berpihak pada satu sudut pandang, diri
sendiri. Egosentris. Sebab, secara tidak langsung sang Fasilitor sedang mengaku sebagai seorang
ekspert. Lalu, dengan expertise yang dimilikinya dia akan menjadikan masyarakat sebagai ekspert juga.
Sedemikian bodohnyakah masyarakat itu ? Lalu bagaimana selama ini mereka menjalani hidup dan tetap eksis setelah melewati rentangan jaman ? Tak adil rasanya mengeluarkan pernyataan yang sedemikian melecehkan potensi masyarakat.
Seorang petani yang tidak dapat mengungkapkan permasalahannya secara runut dengan menggunakan dua belas alat PRA itu tidak bisa pula lantas disebut ‘bukan ekspert’. Petani, nelayan, atau masyarakat manapun sesungguhnya memiliki bahasa mereka sendiri untuk mengungkapkan permasalahannya. Mereka sudah ekspert, tetapi dengan bahasa lain mereka menunjukkannya. Jika metode yang mereka pakai tidak sesuai dengan buku panduan kita, maka tidak lantas kita bisa mengklaim bahwa kita lebih ekspert. Jika kita tidak mengerti bahasa yang mereka pakai, haruskah kita memandang mereka sebagai 'tidak ekspert' ?
Kita semua bisa jadi memang ahli, di bidang-bidang yang berlainan dan beragam. Masyarakat, harus kita akui merupakan ahli dalam bidang kehidupan. Secara perorangan mungkin tidak, tetapi secara komunal masyarakat adalah ahli kehidupan. Masyarakat adalah guru yang sangat berharga bagi seorang fasilitator untuk meraih keekspert-an kita.
Masyarakat sangat ahli menemukan permasalahannya dan memberi reaksi atas permasalahan itu. Kondisi, potensi, nilai dan norma yang kemudian akan mempengaruhi bentuk-bentuk reaksi tersebut. Sebagai sistem sosial, masyarakat juga selalu melakukan evaluasi atas pengalaman-pengalaman terdahulu dengan sendirinya. Namun, sekali lagi, memang tidak serupa dengan format tertulis sesuai ‘template-template’ produk lembaga kita itu.
Lalu apa sebenarnya yang dilakukan oleh seorang fasilitator di lapangan ? Manipulasi. Yang kita perbuat adalah memanipulasi segenap potensi dan eksperties yang dimiliki oleh masyarakat. Sebab, kita dan lembagalah yang melihat beberapa ancaman lain yang lebih global di luar sana jika pada suatu masyarakat belum melaksanakan perilaku positif yang kita inginkan. Dari sanalah kita memutuskan masyarakat harus diarahkan ke mana untuk menghindari ancaman berikutnya itu.
Pendampingan, tidak mengajari masyarakat membaca dan menerjemahkan masalah, pendampingan hanya mengenalkan cara baru bagi masyarakat memilah dan membahasakan permasalahan. Pendampingan tidak mengubah masyarakat yang bodoh menjadi pintar mengerjakan sesuatu, pendampingan hanya menambah dan memodifikasi sebuah keahlian baru bagi masyarakat, berdasarkan keahlian yang sudah mereka miliki sebelumnya, dengan pelatihan-pelatihan itu.
Demikian juga dengan proses-proses lain dalam pendampingan sampai pada tahap evaluasi. Kita hanya mengenalkan alternatif kepada mereka, yang menurut kita jauh lebih efektif. Padahal dengan itu kita harus mengubah dan mamanipulasi beberapa keadaan supaya perubahan berhasil (enabling environment).
Irisan kepentingan sebenarnya yang menjadikan masyarakat ‘harus’ menggunakan metode yang menurut kita lebih efektif. Kepentingan lembaga tempat kita bekerja berdasar pada kenyataan-kenyataan global, scientific, dan pengalaman-pengalaman di tempat lain. Sementara kepentingan masyarakat selalu berlandaskan pada alasan-alasan pragmatis yang juga argumentatif.
Salahkah yang kita buat ? tentu tidak. Sebab, alasan keterbatasan sumberdaya merupakan alasan penting bagi kita untuk membawa perubahan tadi kepada masyarakat. Sumberdaya alam juga yang menjadi kepentingan bersama antara kita dan masyarakat. Dengan isu yang sama inilah kita diharapkan dapat berbagi pengetahuan dengan masyarakat binaan.
Irisan kepentingan, singkatnya, yang menyatukan kita dan masyarakat dalam sebuah isu. Sampai akhirnya kita ‘memaksa’ masyarakat mengatasi masalah ini dengan langkah-langkah yang kita kenal, bahasa kita. Padahal pada akhirnya kita harus ‘merelakan’ masyarakat menyelesaikan permasalahannya tersebut dari sudut pandangnya, jika ingin jaminan keberlanjutan perilaku positif diperoleh. Inilah yang kemudian kita bahasakan sebagai peran partisipatif dan ini sama sekali bukan proses mengubah keadaan dari bodoh menjadi ahli.
Mengaku akan menjadikan masyarakat sebagai ekspert, itu sangat berlebihan. Masyarakat itu sudah ekspert tetapi mungkin saja tidak sesuai perilakunya dengan keinginan kita. Sampai kapanpun saya tetap akan memilih untuk tidak menyebut diri ekspert dan akan tetap berguru pada para ekspert itu. Masyarakat dan sistemnya, guruku ketika bekerja di lapangan.-bn
Tidak ada komentar:
Posting Komentar